Hama dan Penyakit Pada Tanaman Apel dan Cara Mengatasinya


Hama yang menyerang tanaman apel dapat merusak pohon, bunga, dan buah. Hal ini dapat mengurangi kualitas buah bahkan akan mengurangi produksi yang akhirnya dapat merugikan petani apel. Oleh karena itu petani apel harus mengetahui hama yang sering menyerang tanaman apel dan bagaimana cara mengendalikannya.

Hama penting pada tanaman apel
1. Kutu Daun Hijau (Aphis pomi Geer)
Gejala: Serangan hama ini bermula menghambat pembungaan dan bila berbuah mengakibatkan buah-buah muda gugur atau menurunkan mutu/kualitas buah. Pada serangan hebat mengakibatkan tidak terjadi pembuahan.

Cara pengendaliannya:
– Secara biologis, dengan menggunakan musuh alami seperti Coccinellidae dan Lycosa.
– Secara kultur teknis, dengan sanitasi kebun dan pengaturan jarak tanam.
– Secara kimia, dengan insektisida seperti Pegasus 500 Ec atau Supracide 40 EC sebanyak 2 kali seminggu bila terdapat 5 ekor per daun.

2. Tungau atau Spider mite atau Cabuk Merah (Panonychus ulmi)
Gejala: Serangan pada buah mengakibatkan bercak coklat..
Cara pengendaliannya:
– Secara biologis, dengan menggunakan musuh alami seperti Coccinellidae dan Lycosa.
– Secara kimia, dengan menggunakan pestisida seperti Omite 570 EC sebanyak 2 cc per liter air setiap 2 minggu sekali pada awal peningkatan jumlah hama, yaitu apabila ditemukan 8 ekor kutu per daun.

3. Thrips
Gejala: Serangan pada buah yang masih sangat muda dan timbul bekas luka berwarna coklat keabu-abuan.
Cara pengendaliannya:
– Secara biologis, dengan menggunakan musuh alami seperti Coccinellidae dan Lycosa.
– Secara kimia, dengan menggunakan insektisida kontak seperti Lannate 25 WP, dosisnya 2 cc per liter air. Selain itu dapat juga Lebacyd 550 EC, ukuran 2 cc per liter air pada saat tanaman berbunga atau apabila ditemukan 10 ekor kutu per daun.

4. Ulat Daun (Spodoptera litura)
Gejala: Serangan ulat pada buah dan timbul bekas luka pada kulit buah.
Cara pengendaliannya:
– Secara kultur teknis, dengan membuang kelompok telur ulat sebelum menetas.
– Secara kimia, dengan menggunakan insektisida, apabila ditemukan 2 larva ulat per daun dengan insektisida seperti Tamaron 200 LC, Nuvacron 20 SCW, Matador 25 EC dengan ukuran 2 cc per liter air.

5. Serangga Penghisap Daun (Helopheltis sp)
Gejala: Serangan pada buah dengan menghisap cairan sel dan timbul bercak-bercak coklat, nekroses dan dapat mengakibatkan buah pecah.
Cara pengendaliannya:
– Secara kultur teknis, dengan membungkus buah dengan plastik.
– Secara kimia, dengan menyemprotkan insektisida seperti Lannate 25 WP, Baycarp 500 EC dengan ukuran 2 cc per liter air.

6. Lalat Buah (Rhagoletis pomonella)
Gejala: larva memakan daging buah yang mengakibatkan buah menjadi benjol-benjol, timbul lubang-lubang, dan akhirnya membusuk.
Cara pengendaliannya:
– Secara kultur teknis, dengan membungkus buah.
– Secara kimia, dengan menyemprotkan insektisida kontak seperti Lebacyd 550 EC dengan ukuran 2 cc per liter air. Penyemprotan dilakukan apabila telah ditemukan lalat buah dalam kebun. Selain itu dapat juga digunakan perangkap lalat buah jantan dengan menggunakan Methyl Eugenol (0,1 cc) yang diteteskan pada kapas yang telah diberi insektisida pada wadah botol plastic bekas tempat minum yang dipasang disekitar kebun. Untuk mengetahui ada atau tidak ada lalat dalam kebun dapat digunakan perangkap kuning (yellow traps).

7. Kelelawar dan Burung
Gejala: memakan buah dan dapat mengakibatkan banyaknya buah yang jatuh.
Cara pengendaliannya:
– Secara kultur teknis, dengan membungkus buah.

Penyakit yang menyerang tanaman apel dapat merusak pohon, bunga, dan buah. Hal ini dapat mengurangi kualitas buah bahkan akan mengurangi produksi yang akhirnya dapat merugikan petani apel. Oleh karena itu petani apel harus mengetahui penyakit yang sering menyerang tanaman apel dan bagaimana cara mengatasinya.

Penyakit penting pada tanaman apel
1. Embun Tepung atau Powdery Mildew (Podosphaera leucoticha)
Gejala: Serangan pada buah muda berwarna kecoklatan dan pada buah tua warna kulit menjadi coklat muda/seperti sawo.
Cara pengendaliannya:
– Secara kultur teknis, dengan membersihkan rumput di sekitar tanaman dan memotong bunga atau buah muda yang terinfeksi, dikumpulkan kemudian dibakar.
– Secara kimia, dengan fungisida seperti dinokap/Karathane ukuran 4 gram per liter, quinometionat/Morestan ukuran 1 gram per liter apabila ada serangan 5 % dari jumlah daun. Penyemprotan setelah defoliasi (pengguguran daun) sampai tunas berumur 4 – 5 minggu dengan jarak 7 hari.

2. Bercak Daun (Marssonina coronaria J.J. Davis)
Gejala: Serangan pada daun yang berumur 4-6 minggu setelah perompesan (pemotongan ranting dan daun yang tidak produktif). Mulanya pada daun timbul bercak putih tidak teratur, berwarna coklat, permukaan atas timbul titik hitam, dimulai dari daun tua, daun muda hingga seluruh bagian gugur.
Cara pengendaliannya:
– Secara kultur teknis, mengatur jarak tanam tidak terlalu rapat, bagian yang terserang dibuang dan dibakar.
– Secara kimia, yaitu menyemprot fungisida Agrisan 60 WP ukurannya 2 gram per liter air, dosis 1000 – 2000 gram per hektar sejak 10 hari setelah rompes dengan jarak waktu (interval) seminggu. Selain itu dapat juga menggunakan Delseme MX 200 ukurannya 2 gram per liter air, Henlate 0,5 gram per liter air sejak umur 4 hari setelah rompes dengan jarak waktu 7 hari hingga 4 minggu.

3. Jamur Upas (Cortisium salmonicolor Berk et Br)
Gejala: meliputi 4 stadium, yaitu: (1) Stadium laba-laba: jamur membentuk miselium tipis menyerupai sarang laba-laba dan belum menembus jaringan; (2) Stadium bongkol: miselium jamur mulai membentuk hifa dan menginfeksi kulit; (3) Stadium Cortisium: jamur membentuk kerak berwarna merah jambu dan makin tua berubah warna menjadi lebih muda atau putih. Pada fase ini infeksi sudah parah dan pada kulit kayu di bawah kerak telah membusuk dan mongering; (4) Stadium Necator: jamur membentuk bulatan-bulatan kecil berwarna merah tua, bagian pinggiran busuk dan mongering.
Cara pengendaliannya:
– Secara kultur teknis, dengan membersihkan rumput dan mengurangi kerimbunan tajuk, mengurangi kelembaban kebun, menghilangkan bagian tanaman yang sakit dan lukanya ditutup dengan ter atau obat penutup luka.
– Secara kimia, dengan menyemprotkan/menyaput dengan kapur tohor ditambah fungisida (Copper Sandoz atau Derosal 60 WP setelah perompesan dengan ukuran 2 gram per liter air).

4. Kanker (Botryosphaeria Sp.)
Gejala: Serangan pada buah di kebun maupun di gudang panen. Bermula buah timbul bercak coklat kecil, membusuk, meluas hingga seluruh buah melembung dan busuk berair serta warna kulit buah menjadi pucat.
Cara pengendaliannya:
– Secara kultur teknis, dengan memetik buah tidak terlalu masak.
– Secara kimia, yaitu menyemprot pada tanaman sehat dengan fungisida seperti Difoliatan 4F (ukuran 100 cc per 10 liter air), Copper Sandoz, Benomyl (ukuran 0,5 gram per liter air) dan Antracol 70 WP (ukuran 2 gram per liter air).

5. Busuk Buah (Gloeosporium Sp.)
Gejala: Serangan pada buah di kebun maupun di gudang panen. Mula-mula timbul bercak kecil kehijau-hijauan, membusuk, berbentuk bulat, selanjutnya bercak berubah wanca menjadi coklat dan terdapat bintik-bintik berwarna hitam. Pada akhirnya warna buah menjadi oranye.
Cara pengendaliannya:
– Secara kultur teknis, dengan memetik buah tidak terlalu masak. Kemudian menanam varietas yang tahan penyakit ini, yaitu varietas Manalagi.
– Secara kimia, dengan menyemprotkan fungisida pada tanaman atau apabila buah akan disimpan dicelupkan terlebih dahulu ke dalam fungisida seperti benomil 0,5 gram per liter air.

6. Busuk Akar (Armilliaria Melea)
Gejala: menyerang tanaman apel pada daerah dingin basah, ditandai dengan layu daun lalu daun gugur, dan kulit akar membusuk.
Cara pengendaliannya:
– Secara kultur teknis, tanaman apel yang terserang dicabut sampai akar-akarnya dan bekas lubangnya tidak ditanami selama setahun.
– Secara kimia, dengan menyemprotkan fungisida pada tanaman atau apabila buah akan disimpan dicelupkan terlebih dahulu ke dalam fungisida seperti benomil 0,5 gram per liter air.

Iklan

About Jakes

Waroeng Web - Spesialis Website (www.waroengweb.co.id) Sejak tahun 2007 WaroengWeb telah memulai menjalankan bisnis pembuatan website. Hingga saat ini kami tetap fokus dalam pengembangan dan menciptakan inovasi baru mengikuti perkembangan teknologi internet.(Site: waroengweb.co.id Mail: support@waroengweb.co.id CP: jakes 0812 7466 4892 dan dores 0813 6620 5760)

Posted on 20 Mei 2011, in Hama dan Penyakit and tagged . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. barangkali sudah menemukan cara mencegah dan menanggulangi penyakit kutu sisik (scale) yang saat ini sangat meresahkan petani apel, kiranya dapat dibagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: