ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH DI KECAMATAN KELILING DANAU KABUPATEN KERINCI


ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH DI KECAMATAN KELILING DANAU KABUPATEN KERINCI

Oleh

Jakes Sito. SP

THLTBPP 2009

BP3K KECAMATAN DEPATI VII

KABUPATEN KERINCI

2010

  1. I.                   PENDAHULUAN

 

 

1.1. Latar Belakang

Sektor pertanian merupakan sektor penting untuk ditangani secara sungguh-sungguh untuk

memantapkan swasembada pangan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi yang cukup besar untuk mengembangkan produk-produk pertanian mencakup usahatani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan untuk mewujudkan swasembada ketahanan pangan. Peningkatan kebutuhan produk hortikultura menuntut adanya suatu cara yang dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi produksi holtikultura. Sistem pertanian konvensional dengan penggunaan input-input anorganik dan bahan bahan kimia dalam proses budidaya ternyata membawa dampak negatif, akibatnya terjadi masalah baru pada komoditas hortikultura seperti pencemaran lingkungan oleh penggunaan bahan kimia berlebih, ketergantungan terhadap bahan kimia, serta gangguan kesehatan yang diakibatkan adanya residu zat kimia berlebih yang terkandung pada komoditas sayuran.

Penggunaan bahan-bahan kimia seperti pupuk dan pestisida terbukti dapat meningkatkan hasil produksi pangan dan hortikultura, tetapi dalam jangka panjang akan memberikan dampak negatif seperti menurunkan tingkat kesuburan tanah dan merusak kelestarian ekosistem. Salah satu komoditas pangan holtikultura yang sedikit mengandung bahan kimia adalah jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) yang telah dibudidayakan secara meluas di Indonesia, khususnya di daerah dataran tinggi karena jamur tiram putih tingkat pertumbuhannya lebih tinggi pada daerah beriklim dingin dan kelembaban yang tinggi.

Jamur merupakan salah satu jenis produk hortikultura yang dapat dikembangkan dan diarahkan untuk dapat memperbaiki keadaan gizi masyarakat. Jamur tiram merupakan makanan yang aman untuk dikonsumsi karena penggunaan pestisida dan bahan-bahan kimia relatif sedikit. Jamur tiram putih merupakan salah satu jenis jamur yang memiliki keunggulan bila dibandingkan dengan tanaman lain karena dapat tumbuh pada media berupa limbah lignoselulosa, penggunaannya dalam proses fermentasi tidak membutuhkan input yang mahal dan merupakan sumber protein nabati yang tidak mengandung kolesterol sehingga aman untuk dikonsumsi setiap orang.

Peluang pasar domestik jamur tiram putih masih potensial, ditinjau dari populasi penduduk Indonesia yang demikian besar dan tersebar di beberapa provinsi disertai dengan berkembangnya industri pengolahan, pariwisata, terkait di dalamnya industri perhotelan, restoran dan rumah makan, maka peluang pemasaran produk jamur tiram putih di dalam negeri dan ekspor memberikan prospek yang cerah, Berdasarkan uraian diatas, maka sangat perlu dikaji berapa tingkat pendapatan usahatani jamur tiram putih.

Berdasarkan uraian tersebut, maka permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah :

Berapa tingkat pendapatan usahatani jamur tiram putih di daerah penelitian?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah maka tujuan dari penelitian ini adalah :

Menganalisis pendapatan usahatani jamur tiram putih di daerah penelitian.

 

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilaksanakan diharapkan dapat memberi manfaat :

1. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi petani dalam usahatani jamur tiram putih yang efesien dan dapat memberikan keuntungan maksimum.

2. Sebagai rujukan untuk penelitian selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. II.                TINJAUAN PUSTAKA

 

 

2.1. Karakteristik Jamur

Jamur termasuk ke dalam kerajaan (kingdom) fungi, jamur merupakan organisme eukariota karena inti selnya mempunyai inti sejati, dinding sel jamur terdiri dari zat khitin, tubuh atau soma jamur terdiri dari hifa yang berasal dari spora, jamur digolongkan sebagai tumbuhan heterotrofik karena jamur tidak mempunyai klorofil sehingga tidak dapat menghasilkan makanannya sendiri secara fotosintesis, oleh karena itu jamur mengambil zat-zat makanan dengan menyerap hasil penguraian materi organik (Gunawan, 2001).

Menurut Tapa Darma (2002), jamur mengalami fase vegetataif dan generatif dalam perkembangbiakannya. Menurut sub kelasnya jamur dibedakan menjadi dua, yakni Ascomycetes dan Basidiomycetes. Jamur dari subkelas Basidiomycetes lebih mudah diamati karena ukuran tubuh buahnya cukup besar, sedangkan Ascomycetes berukuran sngat kecil (mikroskopis).

 

2.2 Deskripsi Jamur Tiram Putih

Menurut Muchrodi (2001), disebut jamur tiram (Pleurotus ostreatus [Jacq. Ex. Fr] Kummer) karena bentuk tudung membulat, lonjong, dan agak melengkung seperti cangkang tiram. Ciri fisik jamur tiram yaitu tudungnya yang menyerupai cangkang tiram dengan diameter 5-15 cm, permukaannya licin dan agak berminyak ketika lembab, bagian tepinya agak bergelombang, letak tangkai lateral agak disamping tudung dan daging buah berwarna putih Pleurotus spp. Dapat tumbuh di kayu-kayu lunak dan dapat tumbuh pada ketinggian 600 meter dpl, dengan suhu 15º-30ºCelcius, berkembang pada pH 5,5- 7 dan kelembaban 80 persen – 90 persen. Spesies ini tidak memerlukan intensitas cahaya tinggi karena akan merusak miselia jamur dan tubuh buah jamur. Jamur ini bermanfaat sebagai sumber protein nabati dan berkhasiat mencegah penyakit hipertensi dan jantung (Dania, 1998)

Klasifikasi lengkap pleurotus spp. menurut Cahyana (1997) adalah sebagai berikut :

Kingdom         : Mycetea

Divisio             : Amastigomycotae

Phylum            : Basidiomycotae

Kelas               : Hymenomycetes

Ordo                : Agaricales

Family             : Pleurotaceae

Genus              : Pleurotus

Spesies            : Pleurotus ostreatus

 

2.3 Teknik Budidaya Jamur Tiram Putih

Dalam kegiatan budidaya jamur tiram putih, beberapa tahap berikut perlu diperhatikan, seperti :

2.3.1 Sarana Produksi Jamur Tiram Putih

Menurut Cahyana (1997), sarana produksi yang diperlukan sebaiknya dipersiapkan dahulu sebelum melakukan kegiatan produksi. Sarana produksi itu antara lain bangunan, peralatan dan bahan-bahan induk.

Bangunan Kumbung

Budidaya jamur secara komersial memerlukan beberapa bangunan yang diperlukan dalam kegiatan usahanya. Bangunan yang diperlukan terdiri dari ruang persiapan, ruang inokulasi, ruang inkubasi, ruang penanaman dan ruang pembibitan.

a. Ruang Persiapan

Ruang persiapan digunakan untuk persiapan pembuatan media tanam. Kegiatan yang dilakukan pada ruang persiapan antara lain kegiatan pengayakan, pencampuran media tanam, pewadahan dan sterilisasi. Ruang persiapan dapat digunakan pula sebagai tempat untuk menyimpan bahan-bahan seperti bekatul dan kapur apabila skala produksi usaha itu tidak terlalu besar, namun bila skala produksi dalam jumlah besar maka bahan-bahan itu sebaiknya ditempatkan dalam ruang terpisah atau gudang.

b. Ruang Inokulasi

Ruang inokulasi adalah ruang untuk menanam bibit pada media tanam jamur. Ruang inokulasi harus mudah dibersihkan dan disterikan untuk menghindari terjadinya kontaminasi oleh mikroba lain. Pada ruang inokulasi diusahakan tidak banyak terdapat ventilasi yang terbuka lebar dan sebaiknya ventilasi udara dipasang filter atau saringan dari kawat kassa atau kassa plastik, hal ini untuk meminimalisasi tingkat kontaminan. Pada perusahaan dalam skala besar biasanya ruang inokulasi dilengkapi dengan alat pendingin udara (air conditioning).

c. Ruang Inkubasi

Ruang inkubasi adalah ruang yang digunakan untuk menumbuhkan miselium jamur tiram putih pada media tanam yang sudah diinokulasi. Ruang inkubasi biasanya disebut dengan ruang spawning. Ruang ini dilengkapi dengan rak-rak inkubasi untuk mendapatkan media tanam yang sudah diinokulasi.

d. Ruang Pemeliharaan

Ruang pemeliharaan atau sering disebut growing digunakan untuk menumbuhkan tubuh buah jamur. Ruang ini dilengkapi dengan rak-rak tempat baglog penumbuhan tubuh buah jamur dan alat penyemprot untuk menjaga kelembaban dan kadar air dalam pemeliharaan tubuh buah jamur

e. Ruang Pembibitan

Ruang pembibitan adalah ruang yang khusus digunakan dalam pembuatan media bibit jamur. Ruang ini diperlukan bila skala produksi sudah besar, dalam skala produsi kecil bibit dapat dibeli dari produsen bibit sehingga ruang pembibitan tidak diperlukan lagi.

 

Peralatan

Budidaya jamur tiram secara sederhana dapat dilakukan dengan alat-alat yang mudah diperoleh seperti cangkul, sekop, botol, kayu, alat pensteril, lampu spritus. Untuk produksi dalam kapasitas besar diperlukan peralatan yang cukup besar sepaerti ayakan, mixer, filler, boiler dan chamber sterilizer. Mixer digunakan sebagai alat pencampur media tanam jamur ; filler digunakan sebagai alat pengisi media kedalam kantong plastik dalam jumlah tertentu ; boiler digunakan sebagai sumber pemanas (uap) ; chamber sterilizer digunakan sebagai alat untuk sterilisasi dalam jumlah yang besar.

Bahan – Bahan

Bahan-bahan untuk budidaya jamur tiram yang perlu dipersiapkan terdiri dari bahan baku dan bahan pelengkap.

a. Bahan baku

Jamur tiram putih merupakan tumbuhan sapprofit dimana tumbuh dan berkembang pada kayu atau pohon dan mengambil sari makanan dari inangnya. Dalam kegiatan budidaya jamur tiram putih media tanam utama yang digunakan adalah serbuk kayu atau serbuk gergaji supaya media hidup jamur dalam kegiatan budidaya sama dengan di alam. Serbuk kayu yang umum digunakan dalam kegiatan budidaya jamur tiram putih adalah dari pohon sengon (Parasientes falcataria) karena kandungan getah yang terdapat pada pohon ini relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan jenis pohon yang lain, karena kandungan getah pada pohon dapat menghambat pertumbuhan miselia jamur tiram putih. Serbuk gergaji dapat diperoleh dari pabrik pengrajin kayu. Pemilihan serbuk gergaji sebagai bahan baku media penanaman jamur perlu memperhatikan tingkat kebersihan dan kadar getah pada kayu untuk mengurangi kontaminan dalam pelaksanaan budidaya jamur tiram putih.

b. Bahan tambahan

Bahan-bahan lain yang digunakan dalam budidaya jamur tiram putih pada media plastik terdiri dari beberapa macam yaitu bekatul (dedak padi), kapur (CaCO3), gips (CaSO4) dan dapat pula ditambahkan mineral-mineral lain.

1. Bekatul

Bekatul ditambahkan untuk meningkatkan nutrisi media tanam sebagai sumber karbohidrat, sumber carbon (C), dan nitrogen (N2). Bekatul yang digunakan dapat berasal dari berbagai jenis padi dari hasil penggilingan di pabrik. Bekatul sebaiknya dipilih yang masih baru, belum tengik dan tidak rusak

2. Kapur (CaCO3)

Kapur ditambahkan pada media tanam sebagai sumber kalsium (Ca) dan untuk menstabilkan tingkat keasaman (pH) pada media tanam. Jenis kapur yang digunakan adalah kalsium karbonat (CaCO3). Unsur kalsium dan karbon digunakan untuk meningkatkan mineral yang dibutuhkan jamur bagi pertumbuhannya.

3. Gips (CaSO4)

Gips digunakan sebagai sumber kalsium dan sebagai bahan untuk memperkokoh media tanam, dimana dengan kondisi kokoh maka media tanam tidak akan cepat rusak.

4. Kantong Plastik

Penggunaan kantong plastik bertujuan untuk mempermudah pengaturan kondisi dan penanganan media selama pertumbuhan. Kantong plastik yang digunakan adalah plastik yang kuat dan tahan panas sampai suhu 100ºC, jenis plastik biasanya dipilih dari jenis polipropilen (PP). Ukuran dan ketebalan plastic terdiri dari berbagai macam ukuran. Dalam usaha budidaya jamur tiram biasanya yang digunakan adalah ukuran 20 x 30 cm, 17 x 35 cm, 14 x 25cm dan ketebalan 0,3 – 0 7 mm.

2.3.2 Bibit Jamur Tiram Putih

Budidaya jamur yang berhasil dengan baik dipengaruhi beberapa factor yang perlu mendapatkan perhatian secara seksama, diantaranya adalah bibit jamur. Meskipun semua faktor dalam budidaya jamur telah dipenuhi dengan baik tetapi bibit jamur yang digunakan berkualitas kurang baik maka produksi jamur yang diharapkan akan kurang memuaskan atau tidak akan menghasilkan sama sekali (Gunawan, 2001) Bibit yang dipakai sebaiknya berasal dari turunan pertama (F1) karena dengan menggunakan turunan F2, F3 dapat menyebabkan lemahnya pertumbuhan miselium dan dapat mengurangi produktifitas. Ada beberapa indikasi bibit yang baik adalah sebagai berikut :

a. Bibit berasal dari varietas unggul

b. Bibit tidak terlalu tua atau sudah terlalu lama disimpan

c. Bibit tidak terkontaminasi

2.3.3 Budidaya Jamur Tiram Putih

Menurut Cahyana (1997), langkah-langkah dalam melakukan budidaya jamur tiram putih dengan menggunakan serbuk kayu adalah sebagai berikut :

1. Persiapan

Serbuk gergaji, bekatul, gips dan kapur disiapkan sesuai dengan komposisi perbandingannya. Perbandingan komposisi kebutuhan bahan-bahan dapt dilihat pada Tabel 1.

 

Tabel 1. Kebutuhan Bahan-Bahan dalam Budidaya Jamur Tiram

Pada Tabel 1 terdapat berbagai formulasi media untuk pertumbuhan jamur tiram. Hal tersebut berdasarkan pengalaman masing-masing pengusaha yang dilakukan di tempat yang berbeda yang lebih menguntungkan. Berdasarkan Tabel 1 dapat dipilih salah satu formulasi yang sesuai dengan kondisi tempat budidaya.

2. Pengayakan

Serbuk gergaji yang diperoleh dari pengrajin mempunyai tingkat keseragaman yang kurang baik karena di dalamnya biasa terdapat potonganpotongan yang cukup besar dan tajam yang dapat merusak plastik sebagai media tempat tanam yang berpotensi menyebabkan pertumbuhan miselia jamur tidak merata. Untuk mengatasi hal tersebut maka dilakukan pengayakan serbuk gergaji.

3. Perendaman

Perendaman serbuk gergaji perlu dilakukan untuk menghilangkan getah yang terdapat pada serbuk gergaji. Disamping itu perendaman juga berfungsi untuk melunakkan serbuk gergaji agar mudah diuraikan oleh jamur. Perendaman dilakukan selama 6-12 jam, kemudian serbuk gergaji ditiriskan.

4. Pengukusan

Pengukusan serbuk kayu yang telah direndam dilakukan pada suhu 80º- 90ºC selama 4-6 jam. Proses pengukusan ini bertujuan untuk mengurangi mikroba yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur tiram putih yang ditanam dan untuk menghilngkan getah yang terkandung pada serbuk gergaji.

5. Pencampuran

Bahan-bahan tambahan yang telah ditimbang sesuai dengan komposisi yang dibutuhkan di campur dengan serbuk gergaji. Pencampuran harus dilakukan secara merata. Didalam proses pencampuran diusahakan tidak terdapat gumpalan, terutama serbuk gergaji dan kapur, karena dapat mengakibatkan penggumpalan dan komposisi media yang diperoleh tidak merata.

6. Pengomposan

Proses pengomposan dimaksudkan untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks dalam bahan-bahan bantuan mikroba sehingga diperoleh senyawa senyawa yang lebih sederhana. Senyawa yang lebih sederhana akan lebih mudah diserap oleh jamur sehingga memungkinkan pertumbuhan jamur akan lebih baik. Pengomposan dilakukan dengan cara membunbun campuran media kemudian menutupnya secara rapat dengan menggunakan plastik selama 1-2 hari. Proses pengomposan yang baik ditandai dengan peningkatan suhu sekitar 50ºC. Kadar air dalam pengomposan harus diatur pada kondisi 50-65 persen dengan tingkat keasaman (pH) 6-7. Adonan yang baik adalah bila adonan itu dikepal membentuk gumpalan, tetapi mudah dihancurkan.

7. Pewadahan (log Jamur)

Setelah dilakukan pengomposan maka media tanam tersebut dimasukkan kedalam plastic polipropilen karena plastik ini relatif tahan panas dalam proses sterilisasi. Media yang kurang padat akan menyebabkan hasil panen yang tidak optimal karena media cepat busuk sehingga produktifitas akan rendah, untuk menghindari hal tersebut dalam proses pewadahan adonan dalam plastic dipadatkan dengan menggunakan botol atau alat yang lain. Media tanam yang dimasukkan ke dalam plastik polipropilen tersebut yang dinamakan log jamur atau media tempat tumbuh jamur tiram putih.

8. Sterilisasi

Sterilisasi merupakan proses yang dilakukan untuk menginaktifkan mikroba baik bakteri, kapang maupun khamir yang dapat menghambat pertumbuhan miselium jamur. Sterilisasi dilakukan pada suhu 80º-90ºC selama 6- 8 jam.

9. Inokulasi (pemberian bibit)

Inokulasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan taburan dan tusukan. Inokulasi secara taburan adalah dengan menaburkan bibit kedalam media tanam secara langsung. Sementara denagan tusukan dilakukan dengan cara membuat lubang dibagian tengah media melalui cincin sedalam tiga per empat dari tinggi media tanam, selanjutnya dengan lubang tersebut diisi bibit yang telah dihancurkan.

10. Inkubasi

Inkubasi merupakan proses penumbuhan miselium jamur sampai memenuhi seluruh media tanam. Suhu yang dibutuhkan untuk pertumbuhan miselia jamur adalah 22º-28ºC. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media akan tampak putih merata. Biasanya media akan tampak putih merata antara 40-60 hari sejak dilakukan inokulasi. Keberhasilan pertumbuhan miselia jamur dapat diketahui sejak dua minggu setelah inkubasi.

11. Penumbuhan

Media tumbuh jamur yang sudah putih oleh miselia jamur sudah siap untuk dilakukan penumbuhan tubuh buah jamur dengan cara membuka plastic media tumbuh yang sudah penuh miselia. Satu sampai dua minggu setelah media dibuka akan tumbuh bakal buah. Tubuh buah yang sudah tumbuh tersebut akan tumbuh optimal selama 2-3 hari. Kondisi suhu optimal dalam proses pertumbuhan

tubuh buah adalah pada suhu 16º-22ºC dengan kelembaban 80-90 persen.

12. Pemanenan

Panen dilakukan setelah pertumbuhan jamur mencapai tingkat optimal, yaitu cukup besar tetapi belum mekar penuh. Pemanena dilakukan lima hari setelah bakal buah tumbuh. Ukuran jamur yang sudah siap dipanen adalah dengan diameter 5-10 cm. Pemanenan dilakukan sebaiknya pada pagi hari untuk mempertahankan kesegarannya. Jamur yang sudah dipanen tidak perlu dipotong hingga menjadi bagian per bagian tudung, tetapi hanya perlu dibersihkan kotoran yang menempel pada bagian akarnya saja supaya daya simpan jamur dapat lebih lama.

2.4 Konsep Usahatani

Definisi usahatani adalah seluruh organisasi dari alam, tenaga kerja, modal dan manajemen yang ditujukan kepada produksi dilapangan pertanian. Ketatalaksanaan organisasi itu sendiri diusahakan oleh seseorang atau sekumpulan orang, baik yang terkait secara genealogis, politis maupun teritorial. Dalam hal ini usahatani mencakup pengertian mulai dari bentuk sederhana yaitu hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sampai pada bentuk yang paling modern yaitu mencari keuntungan (Hernanto, 1989). Menurut Soekartawi (1986), usahatani adalah sistem organisasi produksi dilapangan pertanian dimana terdapat unsur lahan yang mewakili alam, unsure tenaga kerja yang mampu bertumpu pada anggota keluarga tani. Terdapat unsure modal yang beranekaragam jenisnya salah satunya adalah unsur pengelolaan atau menajemen yang peranannya dibawakan oleh seseorang yang disebut petani. Tipe unsur mempunyai kedudukan yang sama penting dalam usaha tani dan tak dapat dipisahkan satu sama lain.

2.5 Pendapatan Usahatani

Berhasil atau tidaknya usahatani dapat dilihat dari besarnya pendapatan yang diperoleh petani dalam mengelola usahatani. Pendapatan dapat didefinisikan sebagai sisa dari pengurangan nilai penerimaan dan biaya yang dikeluarkan. Pendapatan yang diharapkan adalah pendapatan yang bernilai positif. Penerimaan usahatani adalah nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Penerimaan ini mencakup semua produk yang dijual, dikonsumsi rumah tangga petani, yang digunakan kembali untuk bibit atau yang disimpan digudang (Soekartawi, 1986).

Pengeluaran atau biaya usahatani merupakan nilai penggunaan sarana produksi dan lain-lain yang dibebankan pada produk yang bersangkutan. Selain biaya tunai yang harus dikeluarkan, ada juga biaya yang diperhitungkan yaitu nilai pemakaian barang dan jasa yang dihasilkan dan berasal dari usahatani itu sendiri.

Biaya yang diperhitungkan digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani kalau modal dan nilai kinerja diperhitungkan. Pendapatan usahatani yang diterima seseorang petani dalam satu tahun berbeda dengan pendapatan yang diterima petani lainnya. Perbedaan pendapatan petani ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya masih dapat diubah dalam batas-batas kemampuan petani, misalnya luas lahan usahatani, efisiensi kerja dan efisiensi produksi. Tetapi ada pula faktor-faktor yang tak dapat diubah seperti iklim dan jenis lahan (Soeharjo dan Patong,1973).

Berkaitan dengan ukuran pendapatan dan keuntungan, Soekartawi (1986), mengemukakan beberafa defenisi yaitu :

a. Penerimaan tunai usahatani (farm receipt) : nilai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani. Penerimaan tunai usahatani tidak mencakup pinjaman uang untuk keperluan usahatani.

b. Pengeluaran tunai (farm payment) : jumlah biaya yang dikeluarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani, dan tidak mencakup bunga pinjaman dan jumlah pinjaman pokok.

c. Pendapatan tunai usahatani (farm net cash flow): selisih antara penerimaan tunai usahatani dengan pengeluaran tunai usaha tani.

d. Penerimaan total usahatani (total farm revenue): penerimaan dari semua sumber usahatani yang meliputi jumlah penambahan inventaris, nilai penjualan hasil dan nilai penggunaan untuk konsumsi keluarga.

e. Pengeluaran total usahatani (total farm expensive): semua biaya-biaya operasional dengan tanpa menghitung bunga dari modal usahatani dan nilai kerja dari pengelolaan usahatani. Pengeluaran ini meliputi pengeluaran tunai, penyusutan benda fisik, pengurangan nilai inventaris dan nilai tenaga kerja yang tidak dibayar atau tenaga kerja keluarga.

f. Pendapatan total usahatani (total farm income): merupakan selisih antara penerimaan total dengan pengeluaran total.

2.6 Analisis Pendapatan Usahatani.

Analisis pendapatan mempunyai tujuan dan kegunaan bagi petani maupun bagi pemilik factor produksi. Ada dua tujuan utama dari analisis pendapatan, yaitu menggambarkan keadaan sekarang suatu kegiatan usahatani dan menggambarkan keadaan yang akan datang dari perencanaan atau tindakan. Bagi seorang petani analisis pendapatan memberikan bantuan untuk mengukur apakah kegiatan usahanya pada saat ini berhasil atau tidak. Soeharjo dan Patong (1973) menyatakan bahwa pendapatan selain diukur dengan nilai mutlak juga dianalisa nilai efisiensinya. Salah satu ukuran efisien adalah penerimaan untuk setiap rupiah yang dikeluarkan R/C rasio (Revenue cost ratio). Dalam analisis R/C rasio akan diuji seberapa jauh nilai rupiah yang dipakai dalam kegiatan usahatani bersangkutan dapat memberikan sejumlah nilai penerimaan sebagai manfaatnya. Dengan kata lain analisis rasio penerimaan atas biaya produksi dapat digunakan untuk mengukur tingkat keuntungan relatif kegiatan usahatani, artinya dari angka rasio penerimaan atas biaya tersebut dapat diketahui apakah suatu usahatani menguntungkan atau tidak. Selanjutnya Soeharjo dan Patong menjelaskan bahwa usahatani dikatakan menguntungkan apabila nilai R/C rasio lebih besar dari 1 dan sebaliknya suatu usahatani dikatakan belum menguntungkan apabila nilai R/C rasio kurang dari 1.

  1. III.             METODE PENELITIAN

 

 

3.1  Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Keliling Danau merupakan daerah yang paling banyak terdapat petani pembudidaya Jamur Tiram.

Pengumpulan data dilaksanakan pada Bulan November sampai Bulan Desember 2010. Waktu ini digunakan untuk memperoleh data dan keterangan dari pemimpin petani dan semua pihak yang terkait dalam penelitian ini.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan dan wawancara langsung kepada petani jamur tiram putih dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Pertanyaan yang diajukan kepada petani antara lain karakteristik petani seperti nama, umur, pendidikan dan sebagainya. Hal ini digunakan untuk melihat gambaran umum petani didaerah penelitian. Untuk menganalisis pendapatan yang diperoleh dari usahatani jamur tiram putih diajukan pertanyaan-pertanyaan seperti kapasitas produksi, penggunaan tenaga kerja dan biaya-biaya yang dikeluarkan selama proses produksi.

Data sekunder diperoleh dari instansi pemerintah yang terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Kerinci, buku, internet dan studi literatur yang terkait dengan penelitian.

4.3 Metode Pengambilan Responden

Pemilihan responden petani jamur tiram putih dilakukan dengan menggunakan metode sensus dikarenakan jumlah petani responden dalam penelitian ini hanya berjumlah tujuh orang, jadi semua petani jamur tiram putih dilokasi penelitian dijadikan sebagai responden dan untuk pengambilan responden

4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh baik data primer maupun data sekunder dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Data tersebut kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif tabulasi dan statistik sederhana dengan bantuan kalkulator dan komputer. Analisis yang dilakukan adalah analisis pendapatan usahatani.

.

4.4.1 Analisis Pendapatan Usahatani

Analisis usahatani yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah analisis pendapatan dan analisis rasio penerimaan dan biaya (R/C). Perhitungan pendapatan dibagi menjadi dua yaitu pendapatan atas biaya dan pendapatan atas biaya total. Secara umum, perhitungan pendapatan atas biaya tunai dapat dinyatakan dalam persamaan matematika sebagai berikut :

Dimana:

Y    =  Pendapatan tunai (Rp)

NP  =  Nilai produksi, yang merupakan hasil jumlah fisik produk dengan harga (Rp)

Bt   =  Biaya tunai (Rp)

Sedangkan perhitungan untuk pendapatan atas biaya total adalah :

Dimana:

Y = Pendapatan total (Rp)

NP = Nilai produksi (Rp)

BT = Biaya tunai (Rp)

BD = Biaya diperhitungkan (Rp)

Analisis selanjutnya adalah analisis efisiensi usahatani dengan menggunakan analisis rasio penerimaan dan biaya (R/C). Rasio penerimaan atas biaya menunjukkan berapa besarnya penerimaan yang akan diperoleh dari setiap rupiah yang dikeluarkan dalam produksi usahatani jamur tiram putih. Dalam hal ini jika semakin tinggi nilai R/C, maka semakin menguntungkan usahatani tersebut. Analisis R/C dapat dirumuskan sebagai berikut (Soekartawi, et al. 1986).

Dimana :

Q = Total Produksi (Kg)

P = Harga Jual Produk (Rp)

Bt = Biaya tunai (Rp)

BD = Biaya Diperhitungkan (Rp)

Tabel 2. Analisis Pendapatan Usahatani

Usahatani dikatakan efesien apabila nilai R/C rasio lebih besar dari satu, semakin besar nilai R/C rasio maka menunjukkan semakin tinggi keuntungan usahatani tersebut. Suatu metode dapat dikatakan lebih efisien dari metode lainnya, apabila mampu menghasilkan output yang lebih tinggi nilainya untuk biaya yang sama atau menghasilkan keuntungan yang sama dengan biaya yang lebih kecil.

IV  HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

4.1 Pengguaan Input Produksi Budidaya Jamur Tiram Putih

Proses budidaya jamur tiram putih dimulai dari penyediaan input usahatani yang terdiri dari bibit jamur tiram putih, media tanam seperti serbuk kayu, dedak, kapur, gips, tepung kanji. Sarana pendukung dalam kegiatan usahatani jamur tiram adalah minyak tanah, spritus, plastik, karet, kapas, alkohol, cincin paralon, gula dan bahan bakar. Input tenaga kerja diperoleh dari dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga.  Berikut ini adalah Tabel tentang rata-rata penggunaan input produksi usahatani jamur tiram putih yang ada di Kecamatan Keliling Danau.

Tabel 3. Penggunaan Input Produksi Usahatani Jamur Tiram Putih di Kecamatan Keliling Danau Selama Satu Periode (3 bulan)

Berdasarkan Tabel 3. penggunaan input usahatani jamur tiram putih berbeda-beda tergantung dari jumlah log dan formulasi media. Semakin besar jumlah log yang digunakan untuk budidaya jamur tiram, maka penggunaan jumlah inputnya akan lebih banyak lebih banyak. Hal ini dapat dilihat pada penggunaan bibit jamur, media tanam dan sarana pendukung yang berbeda-beda jumlahnya pada setiap skala penggunaan log tanam jamur tiram putih. Perbedaan dalam penggunaan input disebabkan juga oleh formulasi media yang dipakai oleh masing-masing petani, contoh pada media tanam ada yang menambahkan tamabahan tepung kanji pada pencampuran media tanamnya. Pemakaian formulasi media ini juga dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh masing- masing petani. Kegiatan Budidaya Jamur tiram putih yang dilakukan di daerah penelitian meliputi persiapan bibit, persiapan media tanam, pembibitan, pemeliharaan, panen dan pasca panen.

4.2 Pendapatan Usahatani Jamur Tiram Putih

 

4.2.1 Penerimaan Usahatani

Penerimaan merupakan hasil kali dari jumlah produksi total dan harga jual persatuan. Produksi rata-rata jamur tiram putih yang dihasilkan oleh petani responden adalah sebesar 4.645 kg dengan jumlah penggunaan log rata-rata 12.571 log. Harga rata-rata jamur tiram putih yang dijual jamur tiram putih yang dijual adalah Rp. 8.000 per kg, sehingga rata-rata penerimaan yang diperoleh oleh petani responden di daerah penelitian selama satu periode (tiga bulan) adalah sebesar Rp 37.162.286 (Tabel 4).

Jika dilihat produktifitasnya (jumlah produksi per log) diperoleh bahwa produktifitas rata-rata jamur tiram putih adalah sebesar 0,41 kg per log. Produk yang dihasilkan dari usahatani jamur tiram putih yang ada di Kecamatan Keliling Danau adalah merupakan jmaur tiram putih segar.

Tabel 4. Penerimaan Petani Jamur Tiram Putih di Kecamatan Keliling Danau Selama Satu Periode (tiga bulan)

4.2.2 Biaya Usahatani

Biaya Usahatani dapat berbentuk biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan (biaya tidak tunai). Biaya tunai adalah biaya yang langsung dikeluarkan petani dalam bentuk Rupiah yang harus dimiliki petani dalam menjalankan kegiatan usahataninya seperti biaya pembelian bibit, pembelian bahan baku dan pendukung serta upah tenaga kerja. Biaya yang diperhitungkan (biaya tidak tunai)  digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani, modal, dan menilai kerja keluarga. Tenaga kerja keluarga dinilai berdasarkan upah yang berlaku. Biaya penyusutan peralatan, bangunan dan sewa lahan milik sendiri juga dapat dimasukkan kedalam biaya yang diperhitungkan.

Tabel 5. Analisis Biaya Rata-rata Usahatani Jamur Tiram Putih di Kecamatan Keliling Selama Satu Periode (3 Bulan)

Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa total biaya yang dikeluarkan oleh petani responden dalam melakukan budidaya jamur tiram putih adalah sebesar Rp 23.656.185 dengan jumlah penggunaan log rata-rata sebesar 12.571 log.  Penggunaan biaya tunai lebih besar terhadap penggunaan biaya yang diperhitungkan yaitu sebesar Rp 20.180.914 (85,31 persen) untuk biaya tunai dan Rp 3.475.270 (14,69 persen) untuk biaya yang diperhitungkan. Persentase terbesar terhadap total biaya adalah dalam pengguanaan minyak tanah yaitu sebesar Rp. 5.028.571 (21,26 persen) dengan jumlah penggunaan rata-rata sebesar 1.006 liter. Hal tersebut disebabkan karena minyak tanah mengalami peningkatan harga yang cukup tinggi sehingga pengeluaran biaya usahatani meningkat.

Biaya Tenaga kerja terdiri dari tenaga kerja luar keluarga (TKLK) yang termasuk dalam biaya tunai sedangkan biaya kerja dalam keluarga (TKDK) termasuk dalam biaya yang diperhitungkan. Biaya yang dikeluarkan untuk TKLK terhadap biaya biaya total (upah per HOK Rp 15.000) adalah sebesar Rp 3.600.000 (15,22 persen), dimana lebih besar dibandingkan biaya TKDK sebesar Rp 3.294.643 (13,93 persen) terhadap biaya total, hal ini disebabkan karena jumlah tenaga kerja luar keluarga lebih banyak yang dipekerjakan dalam kegiatan budidaya jamur tiram putih dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja dalam keluarga. Biaya yang diperhitungkan yang digunakan oleh petani responden sebesar Rp 3.475.270 (14,69 persen) yang terdiri dari : biaya penyusutan peralatan, penyusutan bangunan dan upah tenaga kerja dalam keluarga. Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa persentase penyusutan bangunan terhadap total biaya adalah sebesar 0,50 persen dan biaya penyusutan alat terhadap total biaya adalah 0,26 persen.

Jenis peralatan yang diberikan oleh petani responden dalam melakukan kegiatan usahatani jamur tiram putih dilokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 6. Metode yang dapat digunakan dalam menghitung nialai penyusutan peralatan adalah metode garis lurus dengan asumsi bahwa peralatan tidak dapat digunakan lagi setelah melewati umur teknis. Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa rata-rata nilai penyusutan peralatan pada usahatani jamur tiram putih sebesar Rp 62.324 per tiga bulan, yaitu sebesar 0,24 persen dari total biaya, dengan nilai penyusutan peralatan terbesar adalah handsprayer dengan nilai Rp 55.000 per tahun (Rp 13.750 per tiga bulan).

Tabel 17. Rata-rata Nilai Penyusutan Peralatan Usahatani Jamur tiram putih per Satu Periode (3 Bulan)

4.3 Analisis Pendapatan Usahatani Jamur Tiram Putih

Dalam Penelitian ini dapat dilihat pendapatan rata-rata yang diterima oleh petani jamur tiram putih di Kecamatan Keliling Danau dan tingkat efisiensi usahataninya dengan menghitung R/C rasio. (Tabel 7). Pendapatan atas total biaya untuk penggunaan log rata-rata 12.571 log dengan rata-rata produksi 4.645 kg adalah sebesar Rp 13.506.101 sedangkan pendapatan atas biaya tunai adalah sebesar Rp 16.981.372 dari Rp 23.656.185 total biaya yang digunakan.  Berdasarkan nilai penerimaaan dan biaya tersebut maka diperoleh nilai imbangan dan biaya ( R/C rasio) total sebesar 1,57 yang artinya untuk setiap rupiah biaya total yang digunakan petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1,57. Sedangkan untuk R/C rasio atas biaya tunai adalah sebesar 1,84 artinya untuk setiap rupiah biaya tunai yang digunakan petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1,84.

Tabel 18. Rata-rata Pendapatan dan R/C Rasio Usahatani Jamur Tiram Putih di Kecamatan Keliling Danau Selama Satu Periode (Tiga Bulan).

Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa usahatani jamur tiram putih di Kecamatan Keliling Danau efisien karena kedua nilai R/C rasio lebih besar dari satu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa usahatani jamur tiram putih tersebut menguntungkan dan layak untuk dikembangkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V   KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

5.1.  Kesimpulan

Berdasarkan proses budidaya yang dilakukan petani responden, dalam proses produksi yang dilakukan masih menggunakan teknologi drum atau tidak menggunakan teknologi autoklaf, dengan penggunaan log rata-rata 12.571 log. Berdasarkan analisis pendapatan, maka diperoleh imbangan dan biaya (R/C rasio) total sebesar 1,57 yang artinya untuk setiap biaya total yang dikeluarkan petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1,57. sedangkan R/C rasio untuk biaya tunai adalah sebesar 1,84 yang artinya untuk setiap biaya total yang dikeluarkan petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1,84.  Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa usahatani jamur tiram tersebut menguntungkan karena R/C rasio lebih dari satu dan layak untuk dikembangkan.

5.2. Saran

  1. Dalam kegiatan usahatani jamur tiram putih yang menguntungkan, disarankan untuk bekerjasama dengan pihak-pihak yang terkait seperti koperasi dan kelompok tani, untuk pengembangan kegiatan usahatani dan mempermudah petani dalam memasarkan jamur tiram putih.
  2. Untuk penelitian lebih lanjut disarankan untuk melakukan penelitian di kecamatan lain di Kabupaten Kerinci untuk membandingkan sebaran petani responden dan kapasitas produksi log jamur tiram putih.

DAFTAR PUSTAKA

Cahyana, Y. A. 1997. Pembibitan dan Budidaya Jamur Tiram Putih. Papas Sinar Sinanti. Jakarta.

Hernanto, F. 1989. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta

Maharani, Diah. 2007. Analisis Usahatani dan Tataniaga Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostretus) di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Jawa Barat [skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Mosher. 1966. Menggerakkan dan Membangun pertanian. CV Sasaguna. Jakarta.

Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta.

Muchrodi. 2001. Jamur Tiram Putih. Penebar Swadaya. Jakarta .

Soeharjo dan Patong. 1973. Ilmu Usahatani. Penebar Jaya. Jakarta

Soekartawi. 1986. Ilmu usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani

Kecil. Universitas Indonesia. Jakarta.

Soekartawi. 1989. Teori Ekonomi Produksi. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Suriawiria. 2006. Budidaya Jamur Tiram. Kanisius. Cetakan Kelima. Yogyakarta.

Download Artikel ini : KLIK DISINI

About Jakes

Waroeng Web - Spesialis Website (www.waroengweb.co.id) Sejak tahun 2007 WaroengWeb telah memulai menjalankan bisnis pembuatan website. Hingga saat ini kami tetap fokus dalam pengembangan dan menciptakan inovasi baru mengikuti perkembangan teknologi internet.(Site: waroengweb.co.id Mail: support@waroengweb.co.id CP: jakes 0812 7466 4892 dan dores 0813 6620 5760)

Posted on 26 Juli 2012, in Karya Tulis Ilmiah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: